Friday, January 12, 2007

Kelahiran

Kalau ada bayi yang lahir, tandanya Tuhan belum putus asa dengan manusia (Rabintranath Tagore)

Wednesday, January 10, 2007

Tompel Kakak

Guruku bilang, manusia terbuat dari tanah? Aku bingung, bagaimana tanah liat bisa menjadi manusia. Kalau saja dia bilang terbuat dari kayu, mungkin aku bisa percaya. Bukankah sudah ada contoh manusia yang terbuat dari kayu? Pinokio, contohnya.

"Tapi, memang terbuat dari Tanah, Raya...," debat kakaknya.

Raya tetap bingung. Kalau terbuat dari tanah bagaimana dengan warna kulit manusia? Mana ada tanah yang warnanya putih, seperti kulit orang bule. Atau kuning langsat seperti kulit Uminya.

"Seperti membuat keramik, pasti pakai cat," pekik kakaknya tidak mau kalah. "Atau pakai pewarna lain."

Di cat? Siapa yang mencat? Ketika manuia belum ada, dan pertama kali diciptakan, apakah sudah ada orang yang menjual cat saat itu? Karena belum ada manusia, siapa yang menjual dan membuat cat tersebut?

"Mungkin sebelum membuat manusia, Tuhan membuat cat terlebih dahulu, biar bisa memilih warna sesuai dengan warna kulit manusia," timpal kakaknya lagi. "Makanya, kadang-kadang ada orang yang punya tompel. Ketika di buat dulu, mungkin dia keciprat cat warna hitam. Seperti ini, nih," kakaknya memperlihatkan tompel kecil di pahanya.






Tuesday, January 9, 2007

Mata Robot

Raya melihat robot yang ususnya terburai keluar. Ada darah kering. Dia menatapnya dengan perasaan takjub. Ternyata Robot ditangannya tumbuh seperti layaknya manusia. Ada sel yang mengelembung. Dari mana datangnya usus itu. Sebab, dia membuat robot dari kumpulan kaleng bekas. Bisa diambil dari mana saja. Mungkin saja bekas kaleng Coca-cola atau kaleng kerupuk. Lalu di kaitkan dengan sekrup, mur, di sambungkan dengan las karbit.

Dia memang meminta Mang Dadang untuk membantu mengelas bagian-bagian Robot yang semestinya tersambung.Tangan Robot dibuat dari paralon. Raya menggunakan engsel pintu yang dipotong lebih pendek untuk menyambungkannya ke badan. Maksudnya biar bisa digerakkan. Kalau tidak menggunakan engsel, tentu saja tangan-tangan itu tidak bisa digerakan. Sedangkan untuk jari-jarinya, untuk sementara Raya belum membuatnya secara khusus. Kali ini, jari-jari itu diambil dari bekas boneka kakaknya yang sudah lama terbuang. Soalnya kakaknya sudah memiliki boneka Barbie yang baru dengan rambut pirang dan rok pendek seksi. Boneka yang dibuang itu sendiri berbentuk bayi, yang mulutnya disumpal dot agar tidak menjerit. Jadi bentuknya mungil. "Tidak apa-apa, untuk sementara," pikirnya. Nanti, kalau ada temannya yang malas, tandanya jarang menggunakan tangannya untuk bekerja, dia akan meminjam jari-jarinya untuk dipasangkan kepada Robot buatannya. Pasti temannya akan dengan sukarela memberikan pinjaman. Soalnya, kalau dia tidak punya jari, akan ada alasan kenapa dia tidak mengerjakan PR matematikanya, kan?

Untuk kepala, Raya membuatnya dari bola bowling yang tidak terpakai lagi. Tadinya dia ingin meminjam kepala ayahnya sekadar untuk percobaan. Tapi, ayahnya tidak memberi pinjaman kepala. Soalnya, ayah dan Uminya ingin pergi ke resepsi pernikahan famili jauhnya. Jadi kepala itu sangat diperlukan. "Enggak enak dong, Ray. Masa ayah ke resepsi tidak memakai kepala. Apa kata orang nantinya. Kamu tahu, menghadiri resepsi perkawinan tanpa kepala itu termasuk tidak sopan!, " begitu alasan ayahnya. Raya tidak bisa membantah. Bukankah kita harus menjaga sopan-santun? Jadi, ketimbang nanti ayahnya dibilang tidak sopan, lebih baik dia tidak jadi meminjam kepala ayahnya."Kalau begitu, aku pinjam kepala Umi aja, deh," rengek Raya pada Uminya."Kamu ini! Umi kan juga mau pergi ke resepsi bareng ayah kamu. Lagian Umi sudah siapkan sanggul. Kalau kepala Umi kamu pinjam, nanti sanggulnya mau di pasang di kepala siapa? Lagipula, Robot kamu kan cuma buat main-main."

Raya akhirnya mengalah. Kalau ortunya sudah bilang tidak. Itu artinya memang tidak. Artinya lagi, tidak bisa tawar menawar. Akhirnya Raya menggunakan bola Bowling untuk kepala Robotnya. Entah siapa yang menyimpan bola itu, raya menemukannya di gudang belakang rumahnya. Padahal di rumahnya tidak ada yang hobi main Bowling. Tapi mungkin itu milik ayahnya. Seingat Raya, ayahnya pernah mendapat doorprize sebuah bola Bowling ketika menghadiri sebuah acara khitanan masal. Besar bola itu memang pas dengan kepala manusia dewasa. Meskipun untuk ukuran badan Robot buatan Raya terasa agak terlalau besar. Tiga lubang tempat menyelipkan jari untuk melempar pada bola itu, dimasukan pipa besi sepanjang 30 centi. Kemudian disambungkan dengan badan Robot yang terbuat dari kaleng kerupuk tadi. Dengan bantuan Mang Dadang, dia mengelasnya menggunakan las karbit. Untung saja Mang Dadang masih punya roba kelahar yang kemudian diselipkan diantara leher dan badan, agar kepala Robotnya bisa digerakan kekiri dan ke kanan.

Bagaimana dengan matanya? Raya tahu. Mata Robot bisa diambil dari mana saja. Dia sendiri mendapatkannya dari mata tetangganya.Ya, tetangganya. Tante sebelah rumahnya kemarin menyumbangkan sepasang mata buat Raya ketika tahu anak itu bermaksud membuat Robot. "Pakai mata tante saja, Ray," katanya menawarkan.

"Emang, mata tante nggak dipakai lagi?"

"Ah, tante sudah tua, buat apa mata sampai dua segala. Satu saja kan masih bisa melihat. Kasihan Robotmu jika matanya kamu buat dari bola pingpong yang diberi lingkaran hitam menggunakan spidol. Tatapannya akan kosong, dan palsu! Dunia ini sudah banyak kepalsuan, jangan lagi kamu tambah-tambah dengan Robot yang bermata Palsu," kata wanita setengah baya itu. Kemudian tetangga yang dipanggil dengan Tante Sus ini mengambil sendok makan. Lantas dia mencungkil bola matanya. Plug! "Tuh, kan. Biar tua-tua begini mata tante masih jeli kan?." Raya hanya tersenyum. Tante Sus menyodorkan sendok yang di atasnya ada bola mata sebesar pingpong ke arah Raya. Masih ada darah menetes. "Tinggal di cuci pakai air mineral aja nanti di rumah," ujar Tante Sus seolah menjawab keraguan Raya.

"Terimakasih, tante." Setelah mendapat sumbangan sebuah mata dari tante sebelah rumahnya, Raya sebetulnya ingin mencari bola mata yang sebelah lagi. Tapi, bukankah dengan satu mata saja sudah dapat melihat. Lagi pula, buat apa Robot harus memiliki mata lengkap. Toh, ini hanya Robot. Boneka dari kaleng yang fungsinya cuma teman bermain sesaat. Mungkin nanti ketika dia sudah punya mainan baru, seperti kuda poni atau anak gajah, Robot itu barangkali juga akan menjadi penghuni gudang belakang rumahnya. Bersama dengan boneka bayi yang mulutnya disumpal dot agar tidak berteriak histeris itu. Jadi, satu mata saja cukup kan? Pikirnya.

Tapi, gara-gara mata sumbangan Tante Sus itu juga Raya menjadi sebal dengan robotnya. Soalnya, arah mata itu ternyata tidak bisa dikontrol dengan remote. Ketika dia mengarahkan kekiri, justru arah mata itu ke kanan. Ketika dia memencet ke kanan, eh, arah matanya justru ke kiri. Dia memang menggunakan remote control bekas AC yang sudah rusak, dengan modifikasi sedikit dibantu oleh Mang Dadang, untuk mengatur gerakan robotnya. Tapi, ya itu tadi, rupanya gerakan mata Robot tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Geraknya selalu berbalik arah. "Ah, ternyata meskipun sudah dicungkil dan dipindahkan ke kepala Robot, mata itu tetap teguh pada kodratnya," pikir Raya. Oh, ya. Tetangga Raya itu memang punya kelainan dalam soal penglihatan. Dia itu juling! Wajar saja arah arah lirikannya tidak pernah sesuai dengan perintah remote.

Tapi dia tidak habis akal. Kemarin si tante menyumbangkan mata kiri, dan dia memang menempelkan juga di sebelah kiri pada Robotnya. Bagaimana kalau di balik. Maksudnya, dipindahkan ke sebelah kanan? Harapannya, agar arah lirikan mata itu sesuai dengan pencetan remotenya. Maka, dengan menggunakan sendok makan, persis seperti ketika tetangganya mencungkil bola mata itu kemarin, dia mencopot bola mata robotnya. Lalu, mata itu dipindahkan ke sebelah kanan. Sedangkan bola mata sebelah kiri menggunakan bola pingpong yang di beri bulatan hitam dengan spidol.

Hore, aku berhasil, serunya kegirangan! Sekarang memang arah gerakan mata sesuai dengan perintah remote. Ketika dipencet ke kiri, mata itu akan melirik ke kiri. Begitupun sebaliknya. Jadi kini Robot milik Raya seolah memiliki penglihatan yang lebih bertenaga. Memang sih, meski arah lirikan bola pingpong juga pas, tetapi tatapannya kosong. Kita tidak bisa membaca kegembiraan, kesedihan atau kegelisahan dari bola mata dari bola pingpong itu. Sementara, mata sumbangan Tante Sus, seperti sebuah jendela informasi. Dia mampu memberikan respon emosional kepada orang yang menatapnya.Sekarang, ketika ingin mengajak bicara robotnya, Raya tidak harus kebingungan dengan tatatan mata milik Robotnya itu. Arah tatapannya sudah tepat sesuai dengan persepsi umum mengenai sebuah arah tatapan. Dia tidak lagi canggung untuk menatap dalam-dalam mata Robotnya ketika mereke bercengkrama.

Keberhasilan mengarahkan gerakan bola mata itu, membuat Raya senang. Pengalamannya itu juga yang akhirnya membuat dia memberanikan diri untuk mengusulkan kepada temannya atau siapa saja yang memiliki mata juling, agak memindahkan posisi bola matanya itu. Atau membalik posisinya, yang kiri ke kanan, yang kanan ke kiri. "Soalnya, waktu dalam kandungan, mungkin ibu kamu menempatkannya terbalik," kata Raya kepada temannya yang juga menderita juling.

"Tapi bagaimana memindahkannya? Apakah aku harus operasi ke dokter?," temannya bingung. Dia sebetulnya tidak takut ke dokter. Tetapi, kalau harus dioperasi dan dirawat di rumah sakit, itu yang paling ditakutkan. Soalnya, mungkin saja di sana dia akan berjumpa dengan Suster Ngesot!

"Nggak usah ke dokter segala. Jadi kamu nggak harus ketemu suster ngesot."

"Lantas, pakai apa?"

"Sendok"

"Cuma sendok?"

"Iya.Cukup dicungkil pakai sendok makan. Persis seperti mencungkil kelapa muda. Gampang. Tante Sus saja bisa," kata Raya meyakinkan. Lalu dia menjelaskan bagaimana Tante Sus dengan mudahnya mencungkil bola matanya menggunakan sendok. "Nggak sampai semenit. Mungkin rasanya, cuma seperti di gigit semut."

"Kalau hanya digigit semut, sih aku berani. Nanti aku coba dirumah, deh. Makasih ya, Ray. Kamu memang sahabat sejatiku."Mencungkil mata dengan sendok. Rasanya sama seperti digigit semut. Ah, gampang. Bukankah anak lelaki tidak boleh nangis kalau hanya digigit semut? Bahkan seandainya yang menggingit itu seekor T-Rex, seorang anak lelaki juga tidak boleh menangis. "Jadi anak lelaki jangan gampang menangis bila digigit apapun," begitu nasihat bapaknya.

Keesokan harinya sepulang mengaji, teman Raya tadi mengambil sendok makan. Dia menyelipkan di saku celana pendeknya, meniru koboy saat menyelipkan kerisnya. Dia mengendap-endap ke kamar mandi. Menutup pintunya dengan rapat. Di depan cermin kecil, dia menatap matanya yang juling. Sebentar lagi, tidak akan juling lagi, karena posisinya sudah aku perbaiki. Mungkin waktu dia dalam kandungan, ibunya sulit membedakan mana kiri, mana kanan, makanya terpasang terbalik. Makanya, ketika nanti mencari pasangan, dia akan memastikan calon istrinya itu mengetahui dengan persis arah kiri dan kanan. Agar anak-anaknya kelak tidak menderita juling seperti dirinya.

Kini dia semakin mantap untuk meneruskan niatnya. Sendok dipegangnya dengan tangan kanan. Tangan kirinya memencet sedikit dan mengarahkan cukilan sendok itu biar tepat sasaran. Pelan-pelan dia menancapkan ujung sendok itu ke ujung matanya. Diteekannya semakin dalam agar dapat mencungkil bola mata sebesar pingpong miliknya. Dia merasakan pedih di bagian matanya. Tetapi, dia terus menekan sendoknya agar masuk lebih dalam ke tengkoraknya hingga mendapatkan sebuah bola mata. Darah mulai menetes dan rasa perih itu terus menusuknya.

Tapi dia terus menancapkan sendoknya ke bola matanya. Sebab, menurutnya, rasa perih itu belum seberapa. Dia sering lebih perih dari itu, ketika menatap pandangan orang yang bingung karena arah matanya tidak sesuai dengan remote dari otaknya. Pandangan teman-temannya, gurunya, tetangganya, dengan tatapan yang penuh tanya saat menafsirkan arah tatapannya matanya. Itu yang selalu membuatnya pedih. Kepedihannya, mungkin lebih sakit dari rasa perih yang dirasakan saat ini.

Mungkin sekarang dia akan merasakan sakit, tetapi hanya saat ini saja. Nanti, ketika posisi matanya susah sesuai, dia tidak akan merasakan sakit lagi. Rasa sakit akibat pandangan aneh dari teman-temannya.

Ah, kini dia jadi mengerti, mengapa Tante Sus juga rela menahan rasa pedih ketika mencongkel sebelah bola matanya, lalu disumbangkan untuk pembuatan Robotnya Raya. Mungkin Tante Sus juga tidak tahan, melihat tatapan aneh orang lain ketika kebingungan mengikuti arah bola matanya yang tidak pernah bisa ditangkap arahnya. "Sekarang saatnya Tante. Sekarang saatnya, kita yang berkuasa untuk mengontol kemana arah pandangan kita," pekiknya dalam hati. Darah telah terlanjur menetes!

Depok, 8 Januari 2007